Jumat, 08 Januari 2016

PERENCANAAN STRUKTUR BAJA

Pada bagian pertama ini saya akan mencoba menjabarkan syarat – syarat dan peraturan struktur baja. Pada bagian selanjutnya nanti akan saya bahas tentang perhitungan dan standarisasinya. Jadi jangan sia – siakan materi blog ini bagi anda para Engineering (khususnya pemula) untuk mendapatkan materi – materi tentang Teknik Sipil. Maksud saya membahas tentang Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung ini adalah sebagai acuan bagi para perencana dan pelaksana dalam melakukan pekerjaan perencanaan dan pelaksanaan struktur baja.
Standar umum serta ketentuan - ketentuan Teknis Perencanaan Dan Pelaksanaan struktur baja untuk bangunan gedung, atau struktur bangunan lain yang mempunyai kesamaan karakter dengan strukturgedungTata cara ini mencakup:
  1. Ketentuan-ketentuan minimum untuk merencanakan, fabrikasi, mendirikan bangunan, dan modifikasi atau renovasi pekerjaan struktur baja, sesuai dengan metode perencanaan keadaan batas.
  2. Perencanaan struktur bangunan gedung atau struktur lainnya, termasuk keran yang terbuat dari baja.

  3. Struktur dan material bangunan berikut:
    1. Komponen struktur baja, dengan tebal lebih dari 3 mm.
    2. Tegangan leleh (fy) komponen struktur kurang dari 450 Mpa.
Dalam perencanaan struktur baja harus dipenuhi syarat-syarat berikut:
  1. Analisis struktur harus dilakukan dengan cara-cara mekanika teknik yang baku.
  2. Analisis dengan komputer, harus memberitahukan prinsip cara kerja program dan harus ditunjukan dengan jelas data masukan serta penjelasan data keluaran.
  3. Percobaan model diperbolehkan bila diperlukan untuk menunjang analisis teoritis.
  4. Analisis struktur harus dilakukan dengan model-model matematis yang mensimulasikan keadaan struktur yang sesungguhnya dilihat dari segi sifat bahan dan kekakuan unsur-unsurnya.

  5. Bila cara perhitungan menyimpang dari tata cara ini, maka harus mengikuti persyaratan sebagai berikut:
    1. Struktur yang dihasilkan dapat dibuktikan dengan perhitungan dan atau percobaan yang cukup aman.
    2. Tanggung jawab atas penyimpangan, dipikul oleh perencana dan pelaksana yang bersangkutan.
    3. Perhitungan dan atau percobaan tersebut diajukan kepada panitia yang ditunjuk oleh pengawas bangunan, yang terdiri dari ahli-ahli yang diberi wewenang menentukan segala keterangan dan cara-cara tersebut.
    4. Nama penanggung jawab hasil perhitungan harus ditulis dan dibubuhi tanda tangan serta tanggal yang jelas.
Suatu struktur disebut stabil bila ia tidak mudah terguling, miring, atau tergeser, selama umur bangunan yang direncanakan.
Suatu struktur disebut cukup kuat dan mampu-layan bila kemungkinan terjadinya kegagalan-struktur dan kehilangan kemampuan layan selama masa hidup yang direncanakan adalah kecil dan dalam batas yang dapat diterima.
Suatu struktur disebut awet bila struktur tersebut dapat menerima keausan dan kerusakan yang diharapkan terjadi selama umur bangunan yang direncanakan tanpa pemeliharaan yang berlebihan.
Batas-batas lendutan harus sesuai dengan struktur, fungsi penggunaan, sifat pembebanan, serta elemen-elemen yang didukung oleh struktur tersebut.
Batas lendutan maksimum sebagai berikut:
Komponen struktur dengan beban tidak terfaktor
Beban Tetap
Beban sementara
Balok pemikul dinding atau finishing yang getas
L/360
-
Balok biasa
L/240
-
Kolom dengan analisis orde pertama saja
h/500
h/200
Kolom dengan analisis orde kedua
h/300
h/200


Sebagai Acuan Dan Persyaratan-Persyaratan Semua baja struktural sebelum difabrikasi, harus memenuhi ketentuan berikut ini:
  • SNI S-05-1989-F : Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian B (Bahan Bangunan dari Besi/baja)
  • SNI 07-0358-1989-A : Baja, Peraturan Umum Pemeriksaan
  • SNI 07-3014-1992 : Baja untuk Keperluan Rekayasa Umum
  • SNI 03-1726-1989 : Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah dan Gedung.
SNI diatas bisa anda search atau cari di google, atau pun anda bisa membelinya. Saya tidak bisa membagikannya disini.


Sampai bertemu bagian selanjutnya,
Feri Noviantoro

PEMBANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT

Artikel “gedung bertingkat”

PEMBANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT
GEDUNG
Sejak zaman sebelum perang dunia meletus, perkembangan abad yang sudah memprioritaskan bangunan sebagai tempat tinggal. Dimulai dengan bangunan-bangunan bersifat keagamaan dan unsur politis sebagai simbol kekuasaan yang dibuat dengan konstruksi yang tinggi dan lebih dari 1 lantai seperti  Masjid, gereja, kuli-kuil  , balai kota dan lain-lain.
Kita pasti ingat dengan bangunan-bangunan tinggi berikut yang sangat mendunia seperti menara Eifel, Paris, Prancis & menara condong Pissa, Pissa, Italia
Evolusi perkembangan dari bangunan bertingkat tinggi dimula periode pertama pada Equitable Life InsuranceBuilding 1857, New York, Amerika.
Pembangunan gedung bertingkat pada zaman itu sangatlah tidak mudah dengan belum diciptakannya komputer sebagai alat bantu manusia dalam mengerjakan pekerjaan seperti mendesaign dan menghitung. Namun dengan gambar desaign gedung manual oleh arsitek-arsitek yang handal dan perhitungan oleh para insinyur yang teliti dapatlah tercipta gedung yang kokoh, proporsional dan memenuhi sebagai fungsinya.
Pada saat ini memasuki zaman globalisasi yang memodernkan tiap-tiap pembangunan dan bentuk-bentuk gedung bertingkat. Pembangunan gedung bertingkat saat ini ditekankan tidak pada fungsinya saja melainkan pada keindahaan bentuk gedung dan kualitas kekuatan gedung tersebut. Dibangunnya gedung bertingkat dengan keindahaan dan kualitas kekuatannya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan saat-saat ini seperti perkantoran, bisnis, pemerintahan, fasilitas publik seperti mall, stasiun, bandara dll. Dengan gedung bertingkat, keadaan ruang untuk memuat orang banyak tak perlu memiliki lahan luas, cukup dengan menambah lantai di atas lantai satu dan seterusnya.
Dari penjelasan di atas kita sudah mengenal gedung bertingkat dari sejarahnya pada abad 19 dengan fungsi-fungsinya. Kini kita ulas mengenai tahap proses pembangunan gedung bertingkat.
Tahap pelaksanaan pekerjaan menentukan hasil gedung yang direncanakan oleh pihak perencana. Sebelum kita membahas tahap-tahap pelaksaan pembangunan gedung bertingkat, kita lebih dulu mengenal pihak-pihak yang aktif dalam pelaksanaan proyek itu. Pihak di antaranya yaitu :
  • Konsultan proyek
  • Koordinator dan para pelaksana
  • Pihak pemilik (owner) jika diperlukan
  • Pihak perencana / arsitek jika diperlukan

Pada tahap pelaksanaan, semua pelaksanaan pekerjaan di lapangan mengikuti rencana yang telah dibuat oleh perencana. Dari rencana-rencana tersebut antara lain gambar rencana gedung dan detailnya, material dan dokumen-dokumen penting lainya. Tahap berikut setelah dokumen-dokumen pendukung pelaksaan proyek sudah ada, proyek bisa berjalan.

Sebelum memulai proyek gedung, pastikan hal-hal pendukung pekerjaan sudah memenuhi kebetuhan proyek seperti peralatan-peralatan kerja, material, fasilitas pendukung, dan tenaga kerja

  1. Peralatan
Peralatan-peralatan proyek dikategorikan menjadi 2, yaitu peralatan berat dan peralatan ringan
Peralatan berat meliputi :
  1. Backhoe : backhoe digunakan untuk pekerjaan tanah, biasanya sering disebut bulldoser. Fungsi utamanya yaitu menggali/mengeruk tanah
  2. Concrete pump truck : alat untuk memompa beton ready mix dari mixer truck ke lokasi pengecoran. Penggunaan concrete pump truck ini untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi waktu pengecoran. Alat ini digunakan untuk pengecoran balok dan plat lantai.
  3. Tower rane : diperlukan terutama sebagai pengangkut vetikal bahan-bahan untuk pekerjaan struktur, seperti besi beton, bekisting, beton cor, pengangkutan material/bekas, dan material lainnya.
  4. Concrete mixer truck : alat untuk mengolah campuran beton dan memompa beton ready mix dari mixer truck ke lokasi pengecoran.
  5. Dum truck : alat yang dipergunakan untuk memindahkan atau membuang suatu material hasil galian dari lokasi proyek ke lokasi proyek yang telah ditetapkan kemana material tersebut itu dibuang / dijual.
Peralatan ringan meliputi :
  1. Theodolith : alat untuk menentukan as bangunan dan titik-titik as kolom pada tiap-tiap lantai agar bangunan yang dibuat tidak miring.
  2. Waterpass : alat yang digunakan untuk menetukan elevasi / peil lantai, balok, lain – lain yang membutuhkan elvasi.
  3. Trowel : alat yang digunakan untuk menghaluskan permukaan beton
  4. Gerobak dorong
  5. Cangkul
  6. Sekop
  7. Gergajih
  8. Palu
  9. Rol meter
  10. Alat pengikat bendrat
  11. Klem kolom Dan lain-lain

  1. Material
Mengingat rencana pekerjaan proyek gedung yang dibatasi oleh waktu, maka diusahakan pemilihan atau penempatan material yang tepat dan seefisien mungkin sehingga dapat mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Pemilihan material yang baik juga akan menghasilkan bangunan gedung yang kokoh.
Berikut material-material yang dibutuhkan dalam proyek gedung :
  1. Pasir : a. Pasir agregat kasar
  2. Pasir agregat halus
  3. Semen
  4. Air : gunakanlah air yang bersih dan tidak mengandung lumpur
  5. besi-besi tulangan
Dsb
  1. Pekerja
Dalam suatu proyek bangunan, komponen-komponen dari unsur utama yaitu pekerja atau tenaga ahli. Pekerja dibutuhkan untuk melaksanakan seluruh rencana yang sudah dibuat oleh perencana dan melaksanakannya sesuai prosedur. Di dalam proyek kecil maupun besar, keahlian dan keselamatan pekerja sangatlah penting demi mengurangi hambatan pelaksanaan dan mengurangi kerugian materil maupun nyawa.

Jika unsur-unsur pendukung dalam pelaksanaan proyek tersebut telah terpenuhi maka selanjutnya adalah melaksanakan pekerjaan di lapangan dalam rangka membangun gedung bertingkat.  Pelaksanaan pekerjaan di lapangan melalui tahap-tahap pekerjaan  berikut :
Tahap-tahap pekerjaan

  1. Persiapan
Pada pekerjaan persiapan , meliputi survei keadaan di lapangan yang akan dibangun gedung yaitu 1.) Pembersihan lahan, seperti mencabut rumput dan menghilangkan / menebang pohon yang mungkin menjadi penghalang  2.) pembuatan pagar pengaman, dibuat dengan mengelilingi area yang akan digunakan untuk proyek.      3.) Penentuan as dan peil bangunan.        4.) pemasangan bouwplank, merupakan papan-papan yang dipasang di sekitar pekerjaan

  1. Pekerjaan Tanah
Pekerjaan tanah yaitu melaksanakan pekerjaan dari rencana proyek yang sedang dilaksanakan di area lahan/tanah, pekerjaan tanah meliputi : 1.) galian tanah pondasi, pada galian pondasi untuk bangunan bertingkat/gedung tinggi yaitu dengan galian yang dalam. 2.) urugan pasir.      3.) urugan tanah, yaitu mengurug tanah kembali setelah pasangan pondasi selesai dipasang.

  1. Pekerjaan pondasi
Bagian yang paling mendasar dari suatu bangunan yakni pondasi.
Dalam ilmu bangunan dan realita pekerjaan bangunan memiliki jenis-jenis pondasi yang harus disesuaikan dengan bangunan yang akan dibuat. Jenis-jenis pondasi antara lain :
  • pondasi dangkal : pasangan batu kali, pondasi ceker ayam, pondasi umpak , pondasi batu bata
  • Pondasi dalam : pondasi tiang pancang ( driven pile ) , pondasi tiang franki ( franki pile ), pondasi tiang injeksi ( injection pile ), pondasi tiang bor ( bored pile )
Sebelum menentukan pondasi mana yang akan diaplikasikan pada proyek tersebut, sebelumnya telah diteliti keadaan tanah di lapangan. Mengenai tekstur tanah dan daya dukung tanah terhadap bangunan tinggi yang akan dibangun. Namun pada umumnya, penggunaan pondasi untuk bangunan atau gedung dengan lebih dari 3 lantai maka digunakan pondasi tiang pancang. Pada artikel ini membahas pembangunan gedung bertingkat seperti pada gambar di atas atau awal tepatnya 20 lantai. Lebih tepatnya menggunakan tiang pancang. Pondasi tiang pancang sama dengan pondasi bored pile, namun kekuatannya lebih besar pondasi tiang pancang yang pada umumya digunakan untuk pondasi bangunan apartement, kondominium, rent office dan sebagainya.
Karena pada proyek gedung bertingkat ini menggunakan pondasi tiang pancang maka untuk galian tanah menggunakan alat-alat berat.

  1. Pekerjaan Beton Bertulang
Sangat difokuskan pada pekerjaan beton bertulang, dalam proyek gedung bertingkat dengan 20 lantai. Mulai dari pondasi tiang pancang, tiang pancangnya yang sudah terbuat dari beton bertulang maka dengan itu membuat konstruksi pondasi sangat kokoh, selanjutnya untuk kolom dan balok-balok pada konstrusi bagian atas pondasi.
Pekerjaan beton bertulang meliputi : 1.) pembesian, pengerjaan disesuaikan dengan apa yang ada pada gambar rencana.  Pada proyek gedung bertingkat menggunakan baja sebagai kerangka
2.) bekisting, yakni percetakan balok.   3.) betonisasi, pada tahap ini tiap cetakan kolom dan balok diisi adonan beton dengan berbagi ketentuan yang memenuhi standar.

  1. Pekerjaan dinding
Gedung pencakar langit pada saat-saat ini menggunakan dinding kaca, namun dinding seperti batu-batu diganti dengan beton tumbuk ringan, beton tumbuk ringan ini lebih efisien memiliki kualitas yang cukup baik dan beratnya yang ringan memudahkan pengangkutan material.
Berikut jenis-jenis kaca yang sering digunakan dalam proyek gedung bertingkat :
  • Kaca bening
  • Kaca warna
  • Kaca es
  • Kaca reflektif
  • Kaca tempered
  • Kaca laminated
Pada umunya penggunaan kaca untuk dinding eksterior gedung bertingkat yaitu dengan menggunakan kaca reflektif karena lapisan kaca refletif ini bersifat memantulkan cahaya dan panas, serta mampu memberikan penampilan yang mewah, sekaligus menurunkan beban energi pengkodisian udara. Aplikasi kaca untuk dinding gedung bertingkat memiliki keuntungan sendiri, selain memberi kesan megah dan mewah pada penampilan juga dapat menghemat energi karena kaca refleksi dapat memantulkan sekitar 30 % cahaya matahari, sehingga suhu panas di dalam ruangan berkurang dan dapat meringankan kerja AC. Ketebalan kaca refleksi yang akan digunakan sebagai dinding gedung haruslah sesuai standar kebutuhan untuk keperluan dinding.

  1. Pekerjaan Kusen, Pintu dan Jendela
Untuk pekerjaan ini, sebuah proyek gedung tidaklah menggunakan kusen, pintu dan jendela yang digunakan untuk rumah pada umumnya. Pintu pada gedung bertingkat biasanya menggunakan kaca bening tebal sesuai kegunaanya, dan pintu alumunium. Kusen pintu dan kusen jendela juga tidak terbuat dengan kayu seperti pada bangunan rumah biasa. Jendela dibuat dan ditempatkan dengan menentukan letak fungsi dan memperhatikan keadaan pemandangan.

  1. Pekerjaan tangga
Penggunaan tangga pada bangunan bertingkat sangatlah vital, sebagai penghubung lantai 1 dengan lantai 2 , lantai 2 dengan lantai 3 dan seterusnya.  Tangga menurut bahannya dibedakan menjadi 2, yaitu tangga beton dan tangga kayu. Pada proyek gedung bertingkat tangga beton sangatlah cocok dengan keadaan gedung yang besar dan tinggi dan muatan orang yang banyak. Lebar tangga ditentukan berdasarkan muatan lebar badan orang yang melintas, 80 cm untuk 1 orang , 120 cm untuk 2 orang. Pada konstruksi tangga ada istilah optrade dan antrade, yakni langkah lebar dan langkah atas. Berikut dalah rumus tangga : 1 aantrade + 2 optrade = 56-60 cm.
Macam-macam bentuk-bentuk tangga yakni antara lain : Tangga bordes 2 lengan, tangga bordes 3 lengan, tangga 2 perempatan, tangga dengan permulaan perempatan dan tangga dengan penghabisan perempatan.

  1. Pekerjaan atap
Untuk sebuah gedung bertingkat dengan 20 lantai, seperti pada gambar di awal tidaklah dengan atap-atap seperti biasanya yakni genting, sirap, asbes, maupun seng. Demi memberi kesan megah, kaca juga dapat dijadikan untuk atap. Kaca yang sebaiknya digunakan memiliki ketebalan minimal 12 mm, misalnya  dengan menggunakan jenis kaca tempered atau laminated.

Dari ke delapan tahap pekerjaan pada proyek gedung bertingkat secara inti, bangunan sudah mencapai tahap penyelesaian. Namun dalam sebuah gedung bertingkat tidaklah hanya bagian-bagian pekerjaan manual itu saja, terdapat unsur-unsur pendukung seperti fasilitas untuk mempermudah penjangkauan dengan banyak lantai bertingkat, maka digunakanlah lift, bisa saja dengan eskalator dan unsur pendukung lainnya.
Setelah unsur pendukung daripada bagian bangunan gedung telah terpenuhi selanjutnya yakni proses finishing yaitu melengkapi tiap bagian-bagian ruangan gedung dengan sket guna membagi ruang sesuai dengan fungsinya. Bahan-bahan finishing dipilih agar sesuai dengan suasana dan keadaan gedung yang dibangun.



Sumber : https://warsono101.wordpress.com/2014/12/11/artikel-gedung-bertingkat/

Macam-macam alat berat dan fungsinya

Eksistensi alat berat dalam proyek-proyek dewasa ini baik proyek konstruksi maupun proyek manufaktur sangatlah penting guna menunjang Pemerintah baik dalam pembangunan infastruktur maupun dalam eksplore hasil-hasil tambang, misalnya semen dan batubara. Keuntungan-keuntungan dengan menggunakan alat-alat berat antara lain waktu yang sangat cepat, tenaga yang besar dan nilai-nilai ekonomis.
Penggunaan alat berat yang kurang tepat dengan kondisi dan situasi lapangan pekerjaan akan berpengaruh berupa kerugian antara lain rendahnya produksi, tidak tercapainya jadwal atau target yang telah ditentukan atau kerugian biaya perbaikan yang tidak semestinya. Oleh karena itu, sebelum menentukan tipe dan jumlah peralatan danattachmentnya sebaiknya dipahami terlebih dahulu fungsi dan aplikasinya.
Berikut Kami share macam-macam alat berat beserta fungsinya, agar dapat dipahami dalam penggunaannya.
1.   Pengertian Alat-alat berat
 Alat-alat berat (yang sering dikenal di dalam ilmu Teknik Sipil) merupakan alat yang digunakan untuk membantu manusia dalam melakukan pekerjaan pembangunan suatu struktur bangunan. Alat berat merupakan faktor pentingdidalam proyek, terutama proyek-proyek konstruksi maupun pertambangan dankegiatan lainnya dengan skala yang besar(Rostiyanti  2009)
Tujuan dari penggunaan alat-alat berat tersebut adalah untuk memudahkan manusia dalam mengerjakan pekerjaannya, sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai dengan lebih mudah dengan waktu yang relatif lebih singkat.
Alat berat yang umum dipakai dalam proyek kostruksi antara lain :
Dozer,
- Alat gali (excavator) seperti backhoe, front shovel, clamshell;
- Alat pengangkut seperti loadertruck dan conveyor belt;
- Alat pemadat tanah seperti roller dan compactor, dan lain lain.
2.    Klasifikasi alat-alat berat
 Alat berat juga dapat dikategorikan ke dalam beberapa klasifikasi. Klasifikasi tersebut adalah klasifikasi fungsional alat berat dan klasifikasi operasional alat berat.
2.1. Klasifikasi Fungsional Alat Berat
Yang dimaksud dengan klasifikasi fungsional alat adalah pembagian alat tersebutberdasarkan fungsi-fungsi utama alat. Berdasarkan fungsinya alat berat dapatdibagi atas berikut ini (Rostiyanti 2009)
a. Alat Pengolah Lahan
Kondisi lahan proyek kadang-kadang masih merupakan lahan asli yang harus dipersiapkan sebelum lahan tersebut mulai diolah. Jika pada lahan masih terdapat semak atau pepohonan maka pembukaan lahan dapat dilakukan dengan menggunakan dozer. Untuk pengangkatan lapisan tanah paling atas dapat digunakan scraper. Sedangkan untuk pembentukan permukaan supaya rata selain dozer dapat digunakan juga motor grader.
Gambar.1.1
Dozer

Bulldozer dapat dibedakan menjadi dua yakni menggunakan roda kelabang (Crawler Tractor Dozer) dan Buldoser yang menggunakan roda karet (Wheel Tractor Dozer). Pada dasarnya Buldoser menggunakan traktor sebagai tempat dudukan penggerak utama, tetapi lazimnya traktor tersebut dilengkapi dengan sudu sehingga dapat berfungsi sebagai Buldoser yang bisa untuk menggusur tanah.
Buldoser digunakan sebagai alat pendorong tanah lurus ke dapan maupun ke samping, tergantung pada sumbu kendaraannya. Untuk pekerjaan di rawa digunakan jenis Buldoser khusus yang disebut Swamp Bulldozer.
b. Alat Penggali
Jenis alat ini dikenal juga dengan istilah excavator. Beberapa alat berat digunakan untuk menggali tanah dan batuan. Yang termasuk didalam kategori ini adalah front shovel,backhoe, dragline, dan clamshell.
 
Gambar 1.2
Backhoe

c. Alat Pengangkut Material
Crane termasuk di dalam kategori alat pengangkut material, karena alat ini dapat mengangkut material secara vertical dan kemudian memindahkannya secara horizontal pada jarak jangkau yang relatif kecil. Untuk pengangkutan material lepas (loose material) dengan jarak tempuh yang relatif jauh, alat yang digunakan dapat berupa belttruck danwagon. Alat-alat ini memerlukan alat lain yang membantu memuat material ke dalamnya.
 
Gambar 1.3
Truk
d. Alat Pemindahan Material
Yang termasuk dalam kategori ini adalah alat yang biasanya tidak digunakan sebagai alat transportasi tetapi digunakan untuk memindahkan material dari satu alat ke alat yang lain.Loader dan dozer adalah alat pemindahan material.
Gambar1.4
Loader
e. Alat Pemadat
Jika pada suatu lahan dilakukan penimbunan maka pada lahan tersebut perlu dilakukan pemadatan. Pemadatan juga dilakukan untuk pembuatan jalan, baik untuk jalan tanah dan jalan dengan perkerasan lentur maupun perkerasan kaku. Yang termasuk sebagai alat pemadat adalah tamping rollerpneumatictiredrollercompactor, dan lain-lain. Pekerjaan pembuatan landasan pesawat terbang, jalan raya, tanggul sungai dan sebagainya tanah perlu dipadatkan semaksimal mungkin. Pekerjaan pemadatan tanah dalam skala kecil pemadatan tanah dapat dilakukan dengan cara menggenangi dan membiarkan tanah menyusust dengan sendirinya, namun cara ini perlu waktu lama dan hasilnya kurang sempurna; agar tanah benar-benar mampat secara sempurna diperlukan cara-cara mekanis untuk pemadatan tanah.
Pemadatan tanah secara mekanis umumnya dilakukan dengan menggunakan mesin penggilas (Roller); klasifikasi Roller yang dikenal antara lain adalah:
  • Berdasarkan cara geraknya; ada yang bergerak sendiri, tapi ada juga yang harus ditarik traktor.
  • Berdasarkan bahan roda penggilasnya, ada yang terbuat dari baja (SteelWheel) dan ada yang terbuat dari karet (pneumatic).
  • Dilihat dari bentuk permukaan roda; ada yang punya permukaan halus (plain), bersegmen, berbentuk grid, berbentuk kaki domba, dan sebagainya.
  • Dilihat dari susunan roda gilasnya; ada yang dengan roda tiga (Three Wheel), roda dua (Tandem Roller), dan Three Axle Tandem Roller.
  • Alat pemadat yang menggunakan penggetar (vibrator).
  • Gambar.1.5
    Tandem Roller

    f. Alat Pemroses Material
    Alat ini dipakai untuk mengubah batuan dan mineral alam menjadi suatu bentuk dan ukuran yang diinginkan. Hasil dari alat ini misalnya adalah batuan bergradasi, semen, beton, dan aspal. Yang termasuk didalam alat ini adalah crusher dan concrete mixer truck. Alat yang dapat mencampur material-material di atas juga dikategorikan ke dalam alat pemroses material seperti concretebatch plant dan asphalt mixing plant.
  • Gambar. 1.6.
    Concrete Mixer Truck

      g. Alat Penempatan Akhir Material
    Alat digolongkan pada kategori ini karena fungsinya yaitu untuk menempatkan material pada tempat yang telah ditentukan. Ditempat atau lokasi ini material disebarkan secara merata dan dipadatkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Yang termasuk di dalam kategori ini adalah concrete spreaderasphalt pavermotor grader, dan alat pemadat.
Gambar. 1.7
Asphalt Paver

  • 2.2. Klasifikasi operasional Alat Berat
    Alat-alat berat dalam pengoperasiannya dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain atau tidak dapat digerakan atau statis. Jadi klasifikasi alat berdasarkan pergerakannya dapat dibagi atas berikut ini.
    a. Alat dengan Penggerak
    Alat penggerak merupakan bagian dari alat berat yang menerjemahkan hasil dari mesin menjadi kerja. Bentuk dari alat penggerak adalah crawler atau roda kelabang dan ban karet. Sedangkan belt merupakan alat penggerak pada conveyor belt.
Gambar. 1.8
Crawlercrane
  • b. Alat Statis
    Yang termasuk dalam kategori ini adalah towercranebatching plant, baik untuk beton maupun untuk aspal serta crusher plant.
  • Gambar. 1.9
    Tower Crane

     Crane (alat pengangkat) jenisnya ada bermacam-macam: Crane gelegar, cranekolom putar, crane putar, crane portal, crane menara, crane kabel, dan mobil crane. Beberapa jenis Crane banyak digunakan dalam proyek-proyek bangunan sipil yang berkaitan dengan pemindahan tanah adalah mobile crane, sebab craneini dapat dengan mudah dipindah-pindahkan, karena pekerjaan pemindahan tanah secara mekanis membutuhkan mobilitas alat yang relatif tinggi
3.  Fungsi alat berat
Dirancang untuk melakukan berbagai aplikasi kehutanan dengan konfigurasi LogLoader,Harvester/Processor, dan Road Builder.
Gambar. 1.10
Alat Berat Kehutanan
Sumber: Wedhanto (2009)
Backhoe Loadermerupakan gabungan dari dua alat berat yang berbeda fungsinya. Bagian depan dilengkapi dengan bucket dan berfungsi sebagaimana loader dan bagian belakang dilengkapi dengan perlengkapan yang sama dengan yang digunakan pada excavator
Gambar. 1.11
BACKHOE LOADER
                                                                                                      
Alat penggali sering juga disebut Excavator; ada dua tipe Excavator yaitu:
(1) Excavator yang berjalan menggunakan roda kelabang / track shoe (Crawler Excavator) dan
(2) Excavator yang menggunakan ban (Wheel Excavator).
Gambar. 1.12
HIDRAULIC EXCAVATOR
Sumber: catalogue Komatsu
Excavator digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan seperti :
• Excavating (menggali)
• Loading (memuat material)
• Lifting (mengangkat beban)
• Hammering (menghancurkan batuan)
• Drilling (mengebor), dan lain sebagainya
Perbedaan mendasar antara Excavator dan Mass Excavator terdapat pada kapasitas implement yang digunakan.
Alat perata tanah (Grader) berfungsi untuk meratakan pembukaan tanah secara mekanis; dusamping itu Grader dapat dipakai pula untuk keperluan lain misalnya untuk penggusuran tanah, pencampuran tanah, meratakan tanggul, pengurugan kembali galian tanah dan sebagainya; akan tetapi khusus untuk penggunaan pada pekerjaan pengurugan kembali galian tanah hasilnya kurang memuaskan.
Gambar. 1.13
MOTOR GRADER
Sumber: Wedhanto (2009)
Beberapa pekerjaan yang dapat dikerjakan oleh Grader antara lain adalah:
  • · Perataan tanah (Spreading).
  • · Pekerjaan tahap akhir (finishing) pada “pekerjaan tanah”.
  • · Pencampuran tanah maupun pencampuran material (Side cast/mixing).
  • · Pembuatan parit (Crowning Ditching)
  • · Pemberaian butiran tanah (scarifying)
Pada umumnya Grader digunakan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan pembangunan dan pemeliharaan jalan, diantaranya :
• Grading, Spreading, Ditching
• Scarifying
• Side Sloping
• Dozing
• Ripping
 Tergantung attachment (perlengkapan kerja) nya, Skid Steer Loader, disingkat SSL, dapat digunakan untuk berbagai keperluan, diantaranya :
• Loading, Dozing,
• Digging,
 • Clamping,
• Grading, Leveling, dan sebagainya.
Gambar. 1.14
Skid Steer Loader
Sumber: Wedhanto (2009)
Gambar. 1.15
Skidder
Sumber: Wedhanto (2009)
Ada dua jenis Skidder yang digunakan yaitu :
• Wheel Skidder
• Track Skidder
 Kegunaan dari Skidder adalah untuk menarik batang kayu. Pekerjaan ini biasanya banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan kayu (logging).
Gambar. 1.16
Wheel Tractor Scrapper
Sumber: Wedhanto (2009)
Wheel Tractor Scrapper, disingkat WTS, digunakan untuk memuat, memindahkan, menyebarkan dan mem-buang material dalam rangka pemeliharaan jalan. Alat ini digunakan untuk menggali muatannya sendiri, lalu mengangkut ke tempat yang ditentukan, kemudian muatan itu disebagkan dan diratakan. Scrapper mampu menggali/ mengupas permukaan tanah sampai setebal + 2,5 mm atau menimbun suatu tempat sampai tebal minimum + 2,5 mm pula. Scrapper dapat digunakan untuk memotong lereng tanggul atau lereng bendungan, menggali tanah yang terdapat diantara bangunan beton, meratakan jalan raya atau lapangan terbang. Efisiensi penggunaan Scrapper tergantung pada: (1) kedalaman tanah yang digali, (2) kondisi mesin, dan (3) operator yang bekerja.
Jika ditinjau dari penggeraknya, jenis Scrapper ada dua macam yakni:
(1)  Scrapper yang ditarik Buldoser (Down Scrapper Tractor), dan
(2)  Scrapper yang memiliki mesin penggerak sendiri (Self Propelled Scrappers).
 Down Scrapper Tractor adalah jenis Scrapper kuno, Scrapper ini bekerja dengan ditarik oleh Buldoser atau traktor sehingga punya kapasitas produksi yang kecil, sebab gerakan Buldoser sebagai alat penarik sangat lamban, dan jarak angkut yang ekonomis kurang dari 67 m. Self Propelled Scrappers adalah jenis Scrapper yang modern dan saat ini banyak digunakan. Scrapper ini memiliki mesin penggerak khusus sehingga gerakannya gesit dan lincah. Produksi SelfPropelled Scrappers dapat tinggi, jika digunakan untuk mengangkut jarak yang sedang (+ 5 km) efektivitasnya dapat menyaingi truck, baik itu dalam produksi beaya tiap ton (m3) maupun kecepatannya.
Gambar 1.17
Articulated Dump Truck
Sumber: Wedhanto (2009)
Articulated Dump Truck, disingkat ADT, digunakan untuk memindahkan dan membuang material dengan kapasitas terbatas dan kondisi jalan berlumpur.
Gambar 1.18
Off Highway Truck
Sumber: Wedhanto (2009)
Sama halnya dengan ADT, Off Highway Truckjuga digunakan untuk memindahkan material dengan kapasitas yang besar mulai 40T sampai 360T.
Gambar.1-19.
Wheel Dozer
Sumber: Wedhanto (2009)
Mesin ini merupakan wheel loader yang dilengkapi dengan blade, dimana kegunaanya hampir sama dengan dozer.
Gambar.1.20
Track Type Loader
Sumber: Wedhanto (2009)
Track Type Loaderdigunakan untuk memuat material, sama halnya dengan wheel loader, hanya saja menggunakan track dan kapasitasnya lebih kecil.
Gambar 1.21.
Wheel Loader
Loaderadalah alat pemuat hasil galian/ gusuran dari alat berat lainnya seperti Buldoser,Grader dan sejenisnya. Pada prinsipnya Loader merupakan alat pembantu untuk menngangkut material dari tempat-tempat penimbunan ke alat pengangkut lain. Selain ituLoader dapat digunakan sebagai alat pembersih lokasi (Cleaning) yang ringan, untuk menggusur bongkaran, menggusur tonggaktonggak kayu kecil, menggali pondasibasement dan lain-lain.
 Loader merupakan alat pengangkut material dalam jarak pendek, bila digunakan sebagai alat pengangkut maka Loader dapat bekerja lebih aik dari Buldoser, sebab dengan menggunakan Loader tak ada material yang tercecer. Jenis Loader ada dua yaitu :
(1) Loader dengan roda rantai (CrawlerLoader), dan
(2) Loader dengan roda karet (Wheel Loader).
Dalam pemilihan Loader sebagai alat pengangkut, hal yang perlu diperhitungkan adalah beban harus diperhitungkan jangan sampai berat muatan melebihi berat dari loader itu sendiri, sebab ada kemungkinan Loader dapat terjungkal ke depan, lebihlebih jika digunakan Wheel Loader.
Kegunaan dari Wheel Loader adalah untuk memuat material ke dalam ADT atau OHT. Pada wheel loader kecil dan menengah, bisa juga digunakan untuk aplikasi lainnya (tergantung dari attachment yang digunakan) seperti : WHA (Waste Handling Arrangement)Integrated ToolcarrierForklift dan sebagainya.
Gambar. 1.22
Track Type Tractor
Sumber: Wedhanto (2009)
Track Type Tractoratau Bulldozer atau Dozer adalah alat yang dirancang untuk mendorong material, meratakan atau menyebarkan material, mengupas permukaan tanah dan penggunaan lainnya yang sesuai.
Disamping itu ada kegunaan lainnya yang bisa dilakukan oleh machine ini, tergantung dariattachment yang dipasangkan, yaitu :
• Ripping, bila dilengkapi dengan Ripper
• Skidding, bila dilengkapi dengan Winch
Gambar.1- 23
Telehandler
Sumber: Wedhanto (2009)
Penggunaan Telehandler tergantung dari attachment yang dipasangkan padamesintersebut. Misalnya bisa digunakan sebagai forklift dengan daya jangkau yang lebih jauh.
Power  Shovel
Dengan memberikan shovel attachment  pada excavator, maka disapatkan alat yang disebut dengan power shovel. Alat ini baik untuk pekerjaan menggali tanah tanpa bantuan alat lain, dan sekaligus memuatkan ke dalam truk atau alat angkut lainnya. Alat ini juga dapat untuk mebuat timbunan bahan persediaan (stock pilling).
 Pada umumnya power shovel  ini dipasang di atas crawler mounted, karena diperoleh keuntungan yang besar antara lain stabilitas dan kemampuan floatingnya. Power shovel  di lapangan digunakan terutama untuk menggali tebing yang letaknya lebih tinggi dari tempat kedudukan alat. Macam  shovel  dibedakan dalam dua hal, ialah shovel  dengan kendali kabel (cable controlled), dan shovel dengan kendali hidrolis (hydraulic controlled).
 
Gambar :  Front shovel






Cara kerja Power Shovel 
Pekerjaan dimulai dengan mennempatkan shovel pada posisi dekat tebing yang akan digali, dengan menggerakkan dipper/bucket  ke depan kemudian ke atas sambil menggaruk tebing sedemikian rupa sehingga dengan garukan ini tanah dapat masuk ke dalam bucket. Jika bucket sudah penuh, bucket ditarik ke luar. Operator yang telah berpengalaman, akan dapat mengatur gerakan sedemikian rupa sehingga bucket sudah terisi penuh pada saat bucket mencapai bagian atas tebing.
 Setelah terisi penuh, shovel dapat diputar (swing)  ke kanan atau ke kiri menuju tempat yang harus diisi. Segera sesudah shovel  tidak lagi dapat mencapai tebing dengan sempurna, shovel digerakkan/berjalan menuju posisi baru hingga dapat bekerja seperti semula. Pada dasarnya gerakan-gerakan selama bekerja dengan shovel  ialah:
  1. Maju untuk menggerakkan dipper menusuk tebing,
  2. Mengangkat dipper/bucket untuk mengisi,
  3. Mundur untuk melepaskan dari tanah/tebing,
  4. Swing (memutar) untuk membuang (dump),
  5. Berpindah jika sudah jauh dan tebing galian, dan
  6. Menaikkan/menurunkan sudut boom jika diperlukan